1. Mesin Waktu

    Andaikan saya memiliki mesin waktu seperti doraemon pasti weekend saya akan diisi dengan pergi ke waktu-waktu di masa lampau ataupun di masa yang akan datang sesuai dengan yang saya inginkan.Tapi saat ini saya tidak perlu mesin waktu, saya bisa membuatnya sendiri dengan melihat kembali sisa-sisa dokumentasi di masa lalu. Yeaah, saya gemar sekali untuk melihat catatan-catatan perjalanan hidup saya di masa lalu sampai akhirnya saya bisa berada di titik saat ini. Identik dengan galau ataupun ga bisa move on ataupun terjebak nostalgia kalo kata Mba Raisa.

    Oh bukan.. bukan itu tujuannya. Saya senang belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu yang saya lakukan. Bahan introspeksi diri. Seperti hari ini saya meluncur ke masa-masa dimana saya belum tau arti memilih. Saya cuman jalanin apa yang menurut saya bisa bikin saya bahagia dan bunda bahagia, tanpa mikir efek jangka panjang dari apa yang saya lakukan.

    Nostalgia ke masa-masa dimana saya masih bisa ngobrol enak, panjang -lebar sampai pagi tanpa ada gangguan dari pihak luar. Dimana saya hanya bisa melihat sisi baik dari orang tanpa berpikir ada embel macem-macem dibelakangnya, Masa dimana saya tidak perlu berpikir banyak terhadap berjalannya usia dan memaksa saya memikirkan hal yang sebenarnya belum sebegitunya saya inginkan. Masa dimana jika saya sedih saya bisa kembali lagi bahagia disebabkan hormon Endorfin saya bisa timbul tanpa saya sadari karena ada orang yang saya sayangin ada di dekat saya.

    Yaa.. kembali ke masa-masa itu rasanya menyenangkan. Selain itu tujuan lain saya bernostalgia ke masa-masa silam adalah untuk lebih memahami lagi bagaimana posisi orang lain dilihat dari latar belakang masa lalunya. Yaa saya mencoba belajar, bukan bermaksud mengorek-ngorek luka lama.

    Kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan yang saya alami belakangan ini mungkin terasa sedikit lebih berat dari pada sebelumnya, karena saya harus berjuang melawan diri sendiri sendirian tanpa ada si hormon Endorfin tadi. Saya baru sadar ternyata untuk menjadi dewasa itu ga gampang, bukan cuman hidup penuh wisdom aja, tapi perilaku, pengendalian emosi, penekanan ego, dan harus sudah bisa memilih apa yang dibutuhkan atau hanya sekedar menginginkan. Hal-hal tersebut diaplikasikan ke dalam segala aspek kehidupan, termasuk hati.

    Saya sedang belajar dan akan terus belajar sampai mati. Tapi saya selalu yakin apapun yang terjadi di hidup kita adalah jalan terbaik yang Allah berikan dan gariskan. Bismillah… 

    Allah dulu, Allah terus, Allah lagi..

    Ps: Judul sama tulisan emang ga nyambung sih ini. Hahahahaha

     
  2. 11:57

    Notes: 26

    Reblogged from arvorandonuvem

    Bahwa kedepannya kalau kamu nanti mau menikah, sudah tidak waktunya lagi menikah hanya karena cinta.
    — dr. Noroyono Wibowo, SpOG(K)

    (Source: kuntawiaji)

     
  3. 11:51

    Notes: 1

    Reblogged from arvorandonuvem

    Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan derik jam… tentang dia.

    Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.

    Sebelah dari dirimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya- dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan- bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila- berterbangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

    Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan Cinta. Kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala… dan itulah tujuan kalian.

    Kalau saja hidup tidak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka…tanpa ragu kamu akan memilih SATU detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

    Satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu.

    Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.

    Kamu takut.

    Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.

    Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata ‘sejarah’ mulai mengggantung hati-hati diatas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.

    Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.

    Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.

    Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.

    Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?

    Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

    Cinta butuh dipelihara. Bahwa didalam sepak-terjang-nya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

    Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu-entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan… karena cinta adalah mengalami.

    Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud.

    Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.

    Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.

    Hingga akhirnya…

    Di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?).

    Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.

    Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.

    Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan derik jam dinding yang gagu karena habis daya.

    Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

    Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

    Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata ‘jangan’ yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

    Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

    Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.

    Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, Bintang Selatan… yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.

    Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.

    — Surat yang tak pernah sampai - Filosofi Kopi, Dewi Lestari, 2006. (via arvorandonuvem)
     
  4. Walk away!

    Walk away!

     
  5. 21:31 18th Aug 2014

    Notes: 381

    Reblogged from icanread

    image: Download

    icanread:

(by so nice design)
     
  6. 21:01

    Notes: 25841

    Reblogged from mademoisellenessa

    image: Download

    Wedding dream

    Wedding dream

     
  7. 22:19 5th Aug 2014

    Notes: 824

    Reblogged from ispeakquotes

     
  8. 17:56 26th Jul 2014

    Notes: 1037

    Reblogged from goodlifequote

     
  9. 04:45 22nd Jul 2014

    Notes: 612

    Reblogged from ispeakquotes

     
  10. Bersamaku kamu tidak perlu repot-repot berdandan berjam-jam. Toh make up mu akan kalah oleh hujan. Kita akan hujan-hujanan. Toh nanti make-up mu akan hilang di basuh wudhu. Sederhana saja kan lebih enak.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut berbuat aneh. Tidak perlu repot mengatur diri agar terlihat anggun. Aku tidak sedang berjalan bersama model di catwalk kan. Sederhana saja kan lebih nyaman.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut untuk kentut atau ijin ke belakang berlama-lama. Namanya juga manusia. Kalau ditahan nanti masuk rumah sakit. Sederhana saja, keterbukaan kan lebih menenangkan.

Bersamaku, kamu tidak perlu repot makan bergaya eropa. Kita akan makan di manapun. Selama halal, bersih, dan sehat. Kita bisa sambil bercanda sesekali dalam jeda. Sederhana saja kan lebih asyik.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut kalau tidak bisa masak. Tidak perlu takut tidak bisa mengurusku. Kan tugasku yang mengurusmu. Menjamin kehidupanmu sebagaimana yang telah aku janjikan kepada orang tuamu. Memastikanmu baik-baik saja. Kamu cukup bersamaku dan menjadikan kebersamaan kita sebagai pahala. Sederhana saja bukan, tidak saling menuntut berlebihan.

Source: Instagram @likeislam

Sederhana kan?
Bismillahirohmannirohim.

    Bersamaku kamu tidak perlu repot-repot berdandan berjam-jam. Toh make up mu akan kalah oleh hujan. Kita akan hujan-hujanan. Toh nanti make-up mu akan hilang di basuh wudhu. Sederhana saja kan lebih enak.

    Bersamaku, kamu tidak perlu takut berbuat aneh. Tidak perlu repot mengatur diri agar terlihat anggun. Aku tidak sedang berjalan bersama model di catwalk kan. Sederhana saja kan lebih nyaman.

    Bersamaku, kamu tidak perlu takut untuk kentut atau ijin ke belakang berlama-lama. Namanya juga manusia. Kalau ditahan nanti masuk rumah sakit. Sederhana saja, keterbukaan kan lebih menenangkan.

    Bersamaku, kamu tidak perlu repot makan bergaya eropa. Kita akan makan di manapun. Selama halal, bersih, dan sehat. Kita bisa sambil bercanda sesekali dalam jeda. Sederhana saja kan lebih asyik.

    Bersamaku, kamu tidak perlu takut kalau tidak bisa masak. Tidak perlu takut tidak bisa mengurusku. Kan tugasku yang mengurusmu. Menjamin kehidupanmu sebagaimana yang telah aku janjikan kepada orang tuamu. Memastikanmu baik-baik saja. Kamu cukup bersamaku dan menjadikan kebersamaan kita sebagai pahala. Sederhana saja bukan, tidak saling menuntut berlebihan.

    Source: Instagram @likeislam

    Sederhana kan?
    Bismillahirohmannirohim.